Ingin Buat Situs? Hubungi Saya

Check Domain Name ?

Talk To Me

 

 

 

Statistic

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service





counter map

SLINK

Demi Pena

Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis (QS 68: 1)

 

Penggal pertama dari surat Al-Qolam di atas mengingatkanku pada sebuah kejadian unik berkaitan dengan sebuah pena.

 

Kejadian ini menimpa Susanto, temanku asal Jawa Timur. Pria sebaya denganku yang berkaca mata minus dan berkumis tipis ini sering dipanggil Susan. Bisa jadi karena identik dengan nama tokoh boneka “Susan” yang juga berasal dari “Jawa Timur” atau karena sesuai dengan sifatnya yang “low profile ” seperti (Susan) wanita. Tapi di balik itu semua ia memiliki hati yang lembut seperti layaknya Susan yang seorang wanita itu.

 

***
Suatu hari, suasana di kantor Susan lebih meriah dibanding hari biasanya. Para pegawai tidak banyak yang pergi bertugas ke luar kantor dalam rangka menemui obyek (klien). Semua pegawai sibuk menyiapkan laporan angka kredit, yaitu laporan kinerja yang berisi perolehan angka kredit yang didasarkan atas surat penugasan dari pimpinan. Penugasan bisa berbentuk mengikuti seminar, pelatihan, pendidikan, melakukan tugas lapangan, atau unsur pekerjaan lainnya.

Setiap orang di kantor Susan berkepentingan dengan perolehan angka kredit itu, karena mereka ingin mencapai jenjang kepangkatan yang lebih tinggi. Dengan kepangkatan baru yang lebih tinggi, gaji dan tunjangan juga akan mengalami penyesuaian menjadi lebih tinggi. Artinya mereka akan mendapat tambahan rezeki yang lumayan jumlahnya.

Dalam suasana yang serius itu, Susan dari tadi bolak-balik keluar masuk ruangan menunjukkan perasaannya yang gundah. Apakah dia kepanasan karena ruangan tidak ber-AC, atau kehilangan beberapa berkas penugasan sehingga dia harus konfirm ke sana-ke mari, atau memang dia lagi tidak enak badan —saya tidak mengetahuinya dengan pasti.

 

Saat kembali ke ruangan, saya melihat sesuatu yang aneh,

“San, saku bajumu kenapa?” kataku sambil menunjuk saku baju di dada kirinya. Kemeja warna hijau muda favoritnya, kini bercampur dengan tinta biru yang menjalar di sekujur baju.

 

“Astaghfirullah!” Dia terperanjat karena ternyata tinta penanya sudah membasahi baju hingga sekujur bagian perutnya. Pena pun diambil, penutup pena dicabut dan diletakkan pada posisinya. Kemudian dia teliti bagian dalam bajunya. Kaos dalamnya sudah tercemar pula.

 

“Wah, saya harus pulang ganti baju nih!” Dia terkekeh mengurangi rasa tidak enaknya. Orang seisi ruangan pun berpaling menyaksikan Susan berdiri mematung dengan penampilan yang lain (janggal). Beberapa dari mereka menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Susan tersenyum-senyum saja sambil sesekali mengedip-ngedipkan mata di balik kacamata minusnya.
“Ah, tidak apa-apa. Ini musibah kecil.”


Dia kembali ke mejanya. Di belakang meja kulihat Susan mengeleng-gelengkan kepala, seolah merasa aneh dengan kejadian yang menimpanya itu dan seakan ada rahasia dibalik kejadian itu. 

Siang menjelang Ashar, dia baru datang setelah ia pulang berganti pakaian. Kulihat dia jadi agak pendiam. Semangat melakukan aktivitas rasanya mengendur. Aku pun bertanya, kenapa?

“Nggak sih. Cuma aku masih mikirin kejadian tadi. Saya berpikir-pikir ‘kenapa?’ Aku merasa diingatkan sesuatu. Perasaanku mengatakan demikian. Setelah saya renungkan, mungkin berkaitan dengan laporan yang kita bikin ini..”  

Dia melanjutkan, “Aku tadi mencoba merekayasa angka kredit agar bisa diusulkan naik pangkat. ” Ups! Dia berkata tenang, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.

“Rupanya aku tidak boleh berlaku demikian.” Dia menyimpulkan hikmah kejadian yang menimpanya sambil tertawa kecil.

 

Sore menjelang pulang, atasan dia langsung menemuinya,

“San, ini laporan angka kreditmu bagaimana? Kamu tidak mencapai target untuk diusulkan naik pangkat. Barangkali ada surat tugas yang belum kamu masukkan?”

 

“Sudah semua, Pak. Itulah hasil yang saya capai semester ini. Saya tidak apa-apa tidak naik pangkat tahun ini.” Susan menjawab dengan tegas dan penuh percaya diri.

 

Susan tahu banyak teman-teman yang melakukan rekayasa. Tapi dia tidak memperdulikan semua itu. Dia hanya membayangkan seandainya menduduki kepangkatan atau jabatan yang lebih tinggi karena hasil rekayasa; bagaimana status kenaikan penghasilan yang diperolehnya nanti?

 

****

Demi pena! Barang kecil yang jarang diperhatikan orang itu memberikan pelajaran yang cukup berarti buat diri saya.

 

Setiap orang memiliki kebutuhan. Di antara kebutuhan manusia terbesar adalah memperoleh penghasilan atau rezeki. Ada dua untuk memperolehnya, cara yang halal, yaitu dengan bertindak jujur dan berlaku taat kepada Allah atau dengan cara sebaliknya. Dua pilihan tersebut telah jelas dampak-akibatnya, namun banyak orang yang tidak menyadari atau berlaku masa bodoh.

 

Ada baiknya untuk meneliti kembali apa-apa yang kita peroleh hari ini. Apakah sudah melewati proses yang benar? Tentu sangat tidak diinginkan bahwa sebelanga rezeki yang kita peroleh hari ini adalah hasil dari setitik nila di permulaan prosesnya. Setitik nila itu bisa jadi berupa unsur suap, kolusi atau nepotisme. Terlebih bagi yang merasa tidak tenang atas limpahan rezeki yang diterimanya. Hal ini merupakan peringatan adanya “something wrong”, karena memang sifat rezeki seperti itu adalah “panas” seperti bara api.

 

Sungguh bijak ulama yang mengatakan bahwa siapa yang melihat dengan mata hatinya, kelak dia akan beroleh hasil yang sangat baik dari perbuatannya dan akan selamat dari akibat buruknya. Semoga kita dikarunia mata hati yang jernih itu. Amin. Waallahua’lamu bishshawaab.


Tags: oase iman


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Categori
Recent Articles
Recent Comment
Archives

LINK
 

www.voa-islam.com

Copyright © 2020 Muhammad Rizqon · All Rights Reserved