Ingin Buat Situs? Hubungi Saya

Check Domain Name ?

Talk To Me

 

 

 

Statistic

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service





counter map

SLINK

Ramadhan Mengajarkan Optimisme

Beberapa waktu yang lalu, saya dan isteri bersilaturahim ke seorang relasi yang baru melahirkan. Ibu Lina −demikian orang sering memanggil, baru saja melahirkan putrinya yang kedua, hasil pernikahannya dengan Yulianto, seorang prajurit TNI AL (Marinir) asal Gombong, Jawa Tengah. Tinggalnya tidak jauh dari tempat kami, masih dalam satu kelurahan yang sama. Namun demikian untuk menempuhnya dengan jalan kaki, cukup menyita waktu sehingga kami memilih naik motor berboncengan.

Saat kami datang ke rumah orang tuanya, mereka (keluarga Bu Lina dan orang tuanya) menyambut kami dengan suka cita. Barangkali karena baru kali itulah kami bisa menyempatkan berkunjung setelah sekian kali ditawari untuk mampir tetapi kami tidak bisa memenuhinya.

Kami semua berkumpul di ruang tamu yang tidak tersekat dengan ruang keluarga. Tidak ada jarak pandang di antara kami, sehingga kami pun bisa mengobrol sambil menikmati hidangan pisang goreng dan makan malam yang disajikan. Sang bayi yang belum sepekan dilahirkan itu, sedang tidur pulas di kasur berkelambu yang ditaruh di atas bentangan kasur di ruang keluarga. Bu Lina, Ibunya, dan isteri saya berada tidak jauh dari kasur bayi berkelambu itu. Sedangkan saya bersama ayah dan suaminya berada di ruang tamu, mengobrolkan topik-topik yang berbeda yang sekali-kali topiknya bercampur juga dengan topik ibu-ibunya.

Mereka bercerita bahwa demi mendapatkan pelayanan gratis, Yulianto membawa isterinya ke Rumah Sakit milik kesatuannya di Cilandak. Hal yang mengagumkan sekaligus mengagetkan, Bu Lina bersama suaminya pergi ke rumah sakit itu dengan menaiki sepeda motor. Boleh jadi karena Bu Lina belum mengalami sakit tanda hendak melahirkan waktu itu. Ia hanya berpatokan bahwa usia kandungannya sudah melebihi batas waktu yang perkiraan oleh dokter/bidan yang menanganinya. Karena khawatir ada apa-apa, mereka sepakat pergi ke rumah sakit.

Di sana, karena usia janinnya sudah matang, sang janin pun dirangsang untuk segera keluar. Dan alhamdulillah, di rumah sakit itu sang putri bisa dilahirkan dengan mudah dan selamat. Beberapa hari setelah persalinan, barulah Bu Lina menumpang taksi menuju rumahnya di Jatiwaringin, tidak lagi membonceng motor suaminya.

Saat menceritakan kronologi kelahiran putrinya itu, terkisahkan juga bahwa tas mereka tertinggal di taksi yang mereka sadari saat taksi itu sudah pergi menjauh dari rumah. Begitu sadar, Yulianto segera meluncur mendatangi kantor pool taksi yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya itu, ya sekitar 15 menit dengan sepeda motor.

Yulianto tidak hafal nomor taksi itu, dan tidak hafal pula nama pengemudinya. Ia hanya sekedar berikhtiar mencari barangnya yang hilang. Dan ikhtiarnya itu tentu dibarengi dengan optimisme bahwa tas itu bisa ditemukan.

Di depan petugas pelayanan pelanggan itu, Yulianto di tanya jam berangkat dan tujuannya, jam datang dan lokasinya, bagaimana ciri-ciri pengemudinya dan bagaimana deskripsi barangnya. Ia diminta menunggu beberapa saat, sembari petugas mengecek data-data di komputer dan melakukan panggilan konfirmasi lewat komunikasi radio.

Setelah menunggu beberapa lama, petugas di pelayanan konsumen menyampaikan berita gembira bahwa tasnya masih utuh dan masih ada di taksi yang mengantar mereka dari rumah sakit. Tas itu sedang diantarkan oleh pengemudinya ke pool, tempat Yulianto sedang menunggu. Mendengar kabar itu, hatinya pun bahagia penuh syukur. Dan terhadap petugas yang membantunya itu, ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih.

***

Ada sedikit pelajaran berharga, ternyata dengan kesungguhan dan niat baik, baik dari Yulianto maupun petugas pengaduan pelanggan, tas yang hilang itu pada akhirnya dapat ditemukan.

Saya pernah mengalami kejadian kehilangan yang serupa oleh armada taksi lain.Waktu itu saya juga tidak mengingat nomor taksi dan nama pengemudinya. Tetapi hasil yang saya peroleh berbeda dari apa yang diperoleh Yulianto. Saat saya mengadu lewat telepon ─karena lokasi pool-nya jauh, saya menerima jawaban bahwa tanpa mengetahui nomor taksi atau nama pengemudinya, maka barang yang hilang itu sulit (tidak bisa) ditemukan.

Ternyata kesungguhan dan niat baik saja itu tidaklah cukup. Itulah hikmah lanjutan yang saya peroleh. Ia harus didukung oleh perangkat lain, yaitu berupa budaya jujur dan sistem pengawasan yang memastikan kejujuran itu bisa ditegakkan. Pada kasus Yulianto, bisa saja pengemudi taksi itu berbohong bahwa tidak ada barang milik penumpang yang tertinggal di taksinya. Namun dengan pemantauan pergerakan taksi dan jam-jamnya yang terkomputasi dengan baik, maka pengemudi taksi tidak bisa berkilah ketika dikonfirmasi bahwa ada barang milik penumpang yang tertinggal di taksinya.

Dalam konteks kehidupan bernegara, negeri kita ini adalah negeri yang memiliki kekayaan yang luar biasa. Untuk memastikan bahwa kekayaan itu tersimpan dengan aman dan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, dibutuhkan perangkat yang bernama budaya jujur dan sistem pengawasannya.

Tiadanya budaya jujur dan sistem pengawasan yang baik, memang sangat menyulitkan bagi pihak-pihak yang memiliki niat baik dan kesungguhan untuk memperbaiki bangsa ini ke depan. Tetapi hendaknya hal ini tidak menjadikan mereka bersikap apatis dan putus harapan. Jika apatisme dan pesimisme mendominasi sebagian besar elemen bangsa ini, saya khawatir keterpurukan yang dialami oleh bangsa ini akan semakin mendekati titik nadhirnya.

Membangkitkan kesadaran dan bersikap optimis, adalah upaya-upaya relevan untuk mengangkat derajat bangsa ini dari keterpurukan. Bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan, demikian Allah Swt berfirman dalam Al-qur’an.

Berkait dengan Ramadhan yang sebentar lagi tiba, sesungguhnya Ramadhan itu mengajarkan optimisme. Hal ini terbukti dari doa yang selalu dibaca oleh Nabi Saw ketika memasuki bulan Rajab, ''Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadhan .'' (HR Imam Ahmad dan Ath Thabrani).

Optimisme juga ditunjukkan oleh doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Saw ketika berada di bulan Ramdahan, “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ridha-Mu dan surga, dan kami berlindung kepada-Mu dari azab-Mu dan neraka.”

Optimis bahwa Allah akan memberikan pengampunan dan optimis bahwa Allah akan memasukkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, hendaknya diwujudkan pada hari-hari menjelang dan selama pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan. Optimisme inilah yang meluruskan niat dan membulatkan kesungguhan. Tanpa optimisme─yang merupakan konsekuensi dari nilai keimanan, maka Ramadhan akan kehilangan makna kesejatiannya dan terasa tiada beda dengan bulan-bulan yang lain.

Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk membangkitkan niat, membulatkan kesungguhan dan optimisme untuk meraih kejayaan dunia dan akhirat.

Marhaban Ya Ramadhan

Waallhua’lamu bishshawaab. (rizqon_ak)

Published by eramuslim.com on 10 Agu 08 18:23 WIB

Tags: oase iman


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Categori
Recent Articles
Recent Comment
Archives

LINK
 

www.voa-islam.com

Copyright © 2020 Muhammad Rizqon · All Rights Reserved