Ingin Buat Situs? Hubungi Saya

Check Domain Name ?

Talk To Me

 

 

 

Statistic

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service





counter map

SLINK

Sejauh Mana Taqwa Kita?

Di tengah permasalahan bangsa yang kian bertumpuk dan mengendap tanpa penyelesaian, datangnya Ramadhan adalah laksana angin baru yang memberikan optimisme, khususnya bagi orang-orang beriman. Berjuang menghidupkan Ramadhan adalah manifestasi rasa syukur yang sebenarnya, karena Allah telah mempertemukan dengan bulan yang dimuliakanNya.


Kita bisa bercermin dari sikap Nabi SAW yang sudi berpayah-payah menegakkan qiyamul lail, padahal beliau telah dijamin oleh Allah SWT dengan surgaNya. Ketika isteri beliau menanyakan, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau bersusah payah dalam beribadah padahal Allah telah menjaminmu dengan surga?" Nabi SAW menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hambaNya yang bersyukur?" Dari sini kita bisa menarik menarik pelajaran bahwa esensi dari ibadah adalah manifestasi rasa syukur kepada Allah.

Kita juga bisa bercermin dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang tanpa ragu menjalankan perintahNya meski kelihatannya tidaklah mungkin bahwa perintah itu adalah datangnya dari Allah. Bagaimana bisa Allah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih putra terkasihnya Ismail? Sesuatu yang sulit untuk dinalar, kecuali bagi orang yang diberi keyakinan dan keteguhan seperti Nabi Ibrahim. Dari sini kita juga bisa melihat bahwa "terkadang" perintah Allah itu dirasa tidak rasonal bagi orang tertentu.

Namun hal itu tidak bagi Ibrahim. Ia telah mendapat keyakinan bahwa itu adalah perintah Allah, bukan bisikan syetan yang terkutuk. Ketika perintah itu diutarakan kepada Ismail, Ismail pun memiliki keyakinan serupa dengan ayahnya. Bahkan ia memberikan dorongan kepada ayahnya untuk segera mengeksekusi perintahNya. Ismail berkata, "Wahai Ayahku, janganlah engkau ragu dengan perintah Allah itu. Laksanakan perintah itu. Insya Allah engkau akan mendapati diriku sebagai orang yang sabar." Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa menjalankan perintah Allah itu memerlukan kesabaran.

***


Allah telah berjanji bahwa dengan pelaksanaan puasa yang benar, maka ia akan membuahkan taqwa. Dengan taqwa, maka Allah akan memberikan jalan keluar. Dengan taqwa, maka Allah akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak terduga. Dan dengan taqwa, maka hamba akan dicukupkan rezekinya oleh Allah. Jika secara kolektif ketaqwaan ini sudah membudaya, maka Allah akan memberikan keberkahan dari (apa-apa yang diturunkan dari) langit dan (apa-apa yang dikeluarkan dari) bumi. Allah menegaskan, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. 7 : 96).

Apa yang saya kemukakan di atas adalah hal yang jelas, karena semuanya bersumber dari firman Allah dalam Al-Qur'an. Sepintas, nampak naif jika kita mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan solusi, solusi bagi bangsa yang tengah dilanda berbagai bencana politik, ekonomi, dan sosial budaya. Jika kita berkaca pada kelemahan diri sebagai manusia, wajarlah jika memiliki persepsi demikian. Tangan-tangan kita tidak bisa memberikan solusi apa-apa.

Boleh jadi Allah hendak mengingatkan bahwa ketaqwaan kita hanya sebatas slogan dan propaganda. Kita belum taqwa sebenar-benar taqwa. Maka wajarlah jika aneka permasalahan masih datang silih berganti, dan keberkahan yang kita harap itu tiada kunjung tibanya. Banyak ironi yang kita temukan dalam kehidupan. Negeri yang kaya dengan tambang minyak dan gas ini, tetapi rakyatnya masih mengantri dalam membeli minyak dan gas. Negeri yang mayoritas penduduknya muslim, tapi potensi zakatnya belum tergali secara optimal. Negeri dengan penerimaan pajak yang besar, tetapi penguasa belum bisa menjamin masyarakat dengan sarana-sarana kehidupan yang memadai. Negeri dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang hebat, tetapi volume pembelian mobil dan barang-barang mewah selalu meningkat. Terlalu banyak ironi yang bisa kita temukan, sangat jelas dan ada disekitar kita. Hendaknya fenomena itu menjadikan kita bertanya, sejauh manakah taqwa kita? Sejauh manakah taqwa para penguasa negeri ini?

Taqwa menjadi barang teramat mahal dan sangat langka. Masalah kehidupan yang menyengsarakan masih banyak bergelayut. Banyak orang-orang lapar dibiarkan lapar, banyak orang-orang sengsara dibiarkan sengsara, banyak orang yang dhuafa dibiarkan dengan kedhuafaannya.

Allah memberikan formula, dengan puasa yang sebenar-benar puasa, lahirlah ketaqwaan. Formula adalah sebuah kepastian. Buah dari ketaqwaan adalah hati yang ikhlas, akhlak yang baik, empati yang tinggi, jiwa yang mandiri, manhaj yang lurus, tujuan yang terarah, dan manajemen yang profesional. Jika ini dimiliki oleh para pemimpin dan pengelola negeri ini, maka baik sumber daya langit maupun bumi akan terkelola secara baik untuk kepentingan dan kemakmuran penduduk negeri. Inilah keberkahan yang diisyaratkan Allah itu. Namun kebanyakan mereka mendustakan ayat-ayatNya, sehingga bukan kemanfaatan yang diperoleh, melainkan bencana sebagai balasan atas sebuah pengingkaran dan kesombongan.

Dengan semangat kesyukuran sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW, semoga kita bisa mengoptimalkan Ramadhan. Target-target yang kita canangkan, marilah kita raih. Dengan target-target ini, kita bisa mengevaluasi sejauh mana kita berhasil melalui Ramadhan dan sejauh mana tingkat ketaqwaan berhasil kita raih. Tahun depan, jika Allah masih mempertemukan kita, kita tingkatkan targetnya menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi, demikian seterusnya.

Optimalisasi Ramadhan membutuhkan pengorbanan. Semoga kita mengambil semangat berkorban yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Keteguhan dan keyakinan hendaknya kita munculkan bahwa pengorbanan yang kita lakukan bukanlah pengorbanan yang sia-sia, karena janji Allah dalam Al-Qur'an tidak pernah meleset.

Di penghujung Ramadhan ini, ada baiknya kita bermuhasabah, adakah perasaan sia-sia dalam diri kita, adakah bekas dari ibadah yang kita lakukan, adakah masalah yang memberati hidup kita, dan adakah rasa berkah yang kita rasakan sebagai wujud dari janji Allah SWT? Jika masih ada rasa sia-sia, tidak ada bekas dari ibadah, masih ada masalah, dan tidak dirasakannya keberkahan, hendaknya kita menelaah pada diri kita, sejauh mana puasa dan ibadah yang kita lakukan? Sejauh mana taqwa kita? Jangan-jangan kita tidak menuai apa-apa dari puasa dan ibadah kita selain lapar, dahaga, dan keletihan. Na'udzubillah min dzalika.

Janganlah putus harapan, di penghujung Ramadhan ini adalah saat-saat terbaik untuk bermuhasabah. Tunjukkan cinta kita dengan bermunajat dengan sebenar-benarnya sesuai tradisi yang Nabi SAW contohkan, yaitu beri'tikaf. Semoga malam yang lebih indah dari seribu bulan, kita temukan di sana. Amin. (rizqon_ak)

KotaSantri.com Publikasi : 25-09-2008 @ 09:09


1 Comments
image

Thu, 3 Jun 2010 @10:36

hanif

Ramadhan sudah dekat kembali....yuk kita sambut lagi, saatnya kembali segarkan diri untuk berlomba mendapat segala kenikmatan Romadhon...


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Categori
Recent Articles
Recent Comment
Archives

LINK
 

www.voa-islam.com

Copyright © 2020 Muhammad Rizqon · All Rights Reserved