Ingin Buat Situs? Hubungi Saya

Check Domain Name ?

Talk To Me

 

 

 

Statistic

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service





counter map

SLINK

Seuntai Hikmah di Penghujung Ramadhan

KotaSantri.com : Setelah mengikuti i'tikaf beberapa hari di masjid Al-Furqon, pada hari ke-26 Ramadhan sehabis pulang kantor sore itu, saya hendak bertolak ke Medan dengan menumpang bus dari Terminal Bus Setui, Banda Aceh. Di genggaman saya, sudah tersedia tiket bus dan tiket pesawat. Tiket bus untuk berangkat malam itu ke Medan dan tiket pesawat untuk berangkat besok paginya dari Medan menuju Jakarta. Saya merasa perlu pergi ke Medan terlebih dahulu karena pada hari lebaran nantinya, kami sekeluarga tidak berencana untuk berkunjung ke sana melainkan berkunjung ke kampung saya di Jawa Tengah. Maka rencana kunjungan saya kali itu, saya anggap sebagai pengganti dari kunjungan Idul Fitri yang tidak bisa kami lakukan.

Jarak tempat tinggal saya di Gampong Tanjung, yang lokasinya berada di tapal batas kota Banda Aceh, ke Terminal Bus Setui relatif cukup jauh. Sementara, tidak ada Labi-labi (angkot) yang beroperasi di malam hari. Selepas maghrib, mereka sudah pulang ke pool-nya masing-masing. Pangkalan becak mesin (becak motor) pun berada agak jauh dari lokasi Gampong Tanjung. Karena kondisi itulah, saya harus mendapatkan seseorang yang bersedia mengantar saya ke Terminal Bus Setui malam itu.

Banyak karyawan dan driver di kantor, termasuk teman-teman se-rumah (mess), yang sudah mengambil hak cutinya lebih awal guna pulang ke kampungnya masing-masing. Saya sengaja mengakhirkan jadwal kepulangan karena tidak ingin melewatkan malam-malam i'tikaf, walau hanya beberapa malam saja. Alhamdulillah, masih ada beberapa karyawan lokal yang masuk kantor sehingga saya bisa minta pertolongan kepada salah seorang di antara mereka. Satu dari karyawan lokal yang saya kenal cukup baik adalah Hermansyah.

Hermansyah termasuk salah seorang yang kena dampak dari bencana tsunami di penghujung tahun 2004. Anaknya meninggal dunia akibat terseret arus gelombang yang mahadahsyat itu. Ia adalah staff pengarsip surat keluar-masuk dan sekaligus petugas yang menghantarkan surat keluar dan pengurusan surat lainnya. Dari seorang yang berlatar belakang seadanya dan berpendidikan rendah, alhamdulillah ia kini mengenal dunia pengarsipan berbantuan komputer. Pergaulannya dengan para profesional yang tersebar di kota Banda Aceh, membuat wawasannya bertambah hingga ia bisa mengenal dunia komputer, dunia internet, e-mail, chatting, atau percakapan berbasis protokol internet (VoIP).

Hermansyah tinggal di jalan Pango, sehingga ia sering menyebut dirinya dengan Herman Pango. Di Pango, ia mengontrak di sebuah rumah petak kecil di sebuah kampung yang tidak terjangkau oleh Labi-labi (angkot). Karenanya, ia mengandalkan transportasi dengan menggunakan sepeda motor operasional milik kantor. Jika suatu ketika motor itu dipinjam oleh rekan kerjanya karena suatu keperluan, maka ia tidak segan berjalan kaki dari kontrakannya hingga ke jalan raya terdekat sehingga ia bisa menumpang Labi-labi ke kantor. Jika ia kemalaman di kantor, dengan handphone jadulnya, dengan mudah ia minta bantuan seorang teman untuk mengantarkannya pulang, sekedar sampai di ujung jalan kampung yang beraspal. Selebihnya, ia berjalan kaki menuju gampongnya yang becek manakala tertimpa guyuran air hujan dan gelap karena keterbatasan lampu penerang jalan.

Ketika saya dihadapkan pada kondisi keraguan tentang siapa yang bisa mengantar saya, karena banyak teman se-rumah dan driver kantor yang pulang duluan, saya meminta bantuan ke Herman Pango itu. Kebetulan ia sedang memegang kunci motor. Alhamdulillah, ia berkenan mengantar saya ke terminal bus Setui selepas shalat maghrib. Meski ada acara, ia berkenan menunda dan meluangkan waktu untuk mengantar saya beberapa jenak.

Selepas maghrib, saya menunggunya dengan harap-harap cemas, khawatir terlambat datang ke terminal. Tidak berapa lama, akhirnya ia datang menepati janjinya. Saya langsung bergegas dan kami langsung segera menuju terminal.

Sesuatu yang di luar dugaan saya, ternyata Herman tidak sekedar men-drop saya lantas langsung segera pulang, tetapi ia berbuat lebih dari itu. Ia merasa perlu menjaga saya karena saya termasuk orang baru dan "orang asing" di Banda Aceh ini. Ia bertindak seakan hendak memastikan bahwa saya aman menjelang keberangkatan dan selama di perjalanan. Ia membantu mengkonfirmasi nomor bus di loket bus, mencari bus di tengah kerumunan orang-orang, dan mempersilahkan saya naik ke atasnya. Tidak sekedar itu, salah seorang kerabat yang kebetulan hendak ke Medan tetapi menumpang nomor bus yang berbeda dengan saya, diminta untuk memantau saya selama di perjalanan. Jika perlu, setiba di Medan, ia diminta menghantarkan saya hingga ke tujuan di Jalan Gedung Arca.

Sebelum saya duduk di atas bis, ia banyak bercerita tentang dunia yang tidak pernah saya duga sebelumnya, yaitu dunia preman dan lika-liku kehidupan di masa lalunya yang cukup kelam. Berbagai kota di Jawa pernah disinggahinya. Saya baru menyadari bahwa laki-laki di hadapan saya itu adalah mantan preman dahulunya. Dari bicaranya yang tegas dan sikapnya yang pemberani, saya memaklumi dan menyakini dunia silamnya itu.

Apa yang menjadikannya kini berubah? Rupanya bencana tsunami yang mahadahsyat cukup memberi pelajaran kepadanya. Dari sana, ia bertaubat dan berkomitmen untuk mencari nafkah dari jalan yang halal dan bermartabat. Hal itu dibuktikan dari semangat bekerjanya yang cukup tinggi di kantor.

***


Berkat do'a dan dukungan dari Herman dan kerabatnya, alhamdulillah saya tiba selamat di Medan dan di Jakarta. Kebaikan Herman tidak saya lupakan hingga kini. Dalam hati saya, kini tercatat seorang saudara mantan preman yang baik hati.

Saat kawan-kawannya di kantor ditimpa keresahan akibat sistem remunerasi yang dirasakan tidak adil, ia tenang dan enjoy saja. Baginya, rezeki seseorang itu sudah ditentukan olehNya. Jika ditimbang-timbang, gaji yang diterimanya cukup rendah tidak sebanding dengan jerih payah yang dilakukannya. Namun Herman tetap mensyukuri gaji yang sedikit itu. Apa pun, kerja di lembaga itu cukup memberikan pelajaran berharga baginya dibanding ia harus turun kembali ke jalan seperti masa silamnya yang kelam. Ia juga bersyukur bisa menggali banyak ilmu di lembaga yang memperkerjakannya itu.

Bertaubat yang diiringi kesungguhan bekerja, itulah yang saya tangkap dari kesehariannya yang penuh semangat. Tiadanya sifat takabur, yaitu tidak mengingkari kebenaran dan tidak merendahkan orang, boleh jadi adalah awal atau kunci yang menghantarkan pada hidayah dan mendorongnya bertaubat.

Seuntai hikmah ini cukup relevan kita kaitkan dengan parameter keberhasilan pada tarbiyah Ramadhan tahun ini. Barangsiapa yang seiring dengan perginya Ramadhan, ia meninggalkan sifat-sifat tercela dalam dirinya, terutama sifat takabur yang menutupi dirinya, Insya Allah dia mendapatkan hasil dari Ramadhan yang dilaluinya.

Takabur adalah selendangnya Allah dan barangsiapa yang di dalam hatinya ada sifat takabur walau sebesar dzarrah, maka ia tidak tidak akan diperkenankan memasuki surgaNya. Oleh karenanya, sifat takabur ini harus kita tanggalkan secara tuntas dan menggantinya dengan pakaian taqwa. Karena tujuan utama dari puasa adalah meraih ketaqwaan, maka secara terbalik kita bisa melihat bahwa tujuan puasa adalah meninggalkan benih-benih kesombongan.

Semoga Allah memberi petunjuk untuk senantiasa mengeliminasi sifat sombong dari dalam diri dan sebagai gantinya, Allah memberi petunjuk untuk menghiasinya dengan sifat-sifat taqwa. Amin.

Wallahu a'lam bishshawab. (rizqon_ak)


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Categori
Recent Articles
Recent Comment
Archives

LINK
 

www.voa-islam.com

Copyright © 2020 Muhammad Rizqon · All Rights Reserved