Ingin Buat Situs? Hubungi Saya

Check Domain Name ?

Talk To Me

 

 

 

Statistic

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service





counter map

SLINK

Cinta Membutuhkan Kemandirian

KotaSantri.com : Tidak jauh dari rumah saya, berdiri sebuah masjid bernama Masjid Al-Ihsan. Di sepanjang jalan raya di samping masjid itu, beberapa kelompok pedagang kecil menggelar jualannya di sana. Mereka adalah penjual soto, aneka gorengan, bubur ayam, mie ayam, dan lain-lain yang menggelar dagangannya di waktu siang. Sedangkan pedagang nasi goreng, es buah, ayam goreng, pecel lele, jamu, keripik, dan lain-lain, menggelar dagangannya di malam hari.

Sepanjang jalan raya di samping masjid itu, adalah lokasi tempat berjualan yang cukup strategis. Di seberang mereka terdapat bangunan plaza, aneka swalayan, dan pertokoan. Di belakang mereka dan sekitarnya, terdapat pemukiman yang padat penduduk. Di sepanjang jalan juga banyak berjejer pedagang-pedagang lain. Tak heran jika banyak sekali orang yang hilir mudik melintasi mereka. Tingkat mobilitas manusia yang melintasi mereka cukup tinggi, sehingga hasil penjualan yang diperoleh mereka cukup lumayan. Hal ini saya ketahui dari sumbangan yang rutin diberikan oleh para pedagang itu kepada masjid Al-Ihsan dekat mereka itu, yang kadang diumumkan pada setiap penyelenggaraan shalat Jum'at.

Satu dari para pedagang yang saya kenal adalah sepasang kakek dan nenek pedagang nasi goreng, yang sekaligus menyediakan mie goreng dan mie kuah. Mereka berasal dari sebuah kampung di kota Tegal, dan di sini mereka mengontrak sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah yang saya tinggali. Anak-anak mereka sudah besar, sudah berkeluarga dan hidup terpisah dari mereka dengan menjalani profesinya masing-masing.

Beberapa hari pasca Idul Fitri 1428 H, saya bertandang ke tendanya. Setelah mengucap selamat Idul Fitri dan ngobrol sejenak, saya memesan nasi goreng bungkus kepada mereka. Segera saja, sang kakek menyiapkan wajan penggorengan, membesarkan nyala kompor gas minyak, menuangkan minyak goreng, menuangkan kaldu, dan mulai menyiapkan menu pesanan saya. Sementara itu, Wak, panggilan saya untuk sang nenek itu, menyiapkan nasi putih, bumbu, dan pernik-pernik nasi gorengnya. Sembari menunggu pesanan disiapkan, saya beramah-tamah dengan mereka, terutama kepada Wak itu.

"Wak, baru jualan setelah lebaran ya?" tanya saya.

"Iya, baru dua hari ini," ia menjawab singkat.

Sudah menjadi tradisi bahwa banyak para pedagang yang pulang kampung (mudik) ketika menjelang lebaran, dan balik setelah beberapa pekan untuk aktif berjualan seperti sedia kala.

"Lama di kampung kemarin, Wak?" tanya saya.

"Ya, alhamdulillah, Mas, lama. Lha wong saya pulang sebelum bulan puasa."

"Ooo, gitu."

Cukup lama juga mereka pulang kampung. Semula saya mengira pasangan kakek dan nenek itu tidak ubahnya seperti pedagang lainnya, yaitu pulang kampung di beberapa hari menjelang Idul Fitri. Ternyata mereka pulang lebih cepat, jauh sebelum para pedagang lain bermudik menuju kampung. Lantas saya bertanya dalam hati, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan selama Ramadhan di kampung?

Terlontarlah sebuah pertanyaan dari saya, "Wak jualan juga di kampung?"

"Ya ndaklah, Mas, kami sengaja pulang kampung kan mau ibadah. Ndak jualan untuk sementara."

"Wak nggak dapat uang apa-apa dong selama bulan puasa. Lha wong ngga jualan," saya mencoba bercanda.

"Ya ndak apa-apa, Mas. Kami kan sudah nabung duluan. Kami ini sudah tua, masak jualan terus setiap hari kan ndak mungkin tho? Ada waktunya untuk libur dan bener-bener beribadah kepada Allah."

Kemudian ia menambahkan, "Mumpung diberi kesempatan bertemu Ramadhan, Mas!"

Saya bersyukur, ternyata mereka pulang kampung bukan tanpa perbekalan apa-apa. Ia telah menabung dari hasil dagangan selama sebelas bulan sebelumnya. Sungguh, suatu perencanaan penyambutan Ramadhan yang luar biasa. Saya berpikir, pastilah Ramadhan itu memiliki makna yang sangat khusus bagi mereka. Jika tidak demikian, tentu mereka tidak termotivasi untuk menabung guna mempersiapkan datangnya bulan yang dirindui untuk beribadah itu.

Ada jeda beberapa saat, karena Wak harus sibuk membungkus nasi goreng yang baru diturunkan dari wajan penggorengan. Nampak beberapa orang mulai memasuki ke tenda yang berisi dua bangku panjang dan satu meja itu. Nampaknya dagangan mereka itu tidak pernah sepi dari pengunjung. Ada saja orang yang membeli kepada mereka. Saya nilai, rasa masakan yang disajikan memang terasa beda. Wajar jika banyak orang yang terpikat lidahnya.

Seusai membungkus dan menyerahkan nasi goreng bungkus itu, saya menyerahkan uang dan mengucapkan terima kasih. Saya segera pamit karena mereka harus melayani pengunjung lainnya. Di perjalanan pulang, saya masih merenungi makna Ramadhan yang teramat khusus bagi mereka, sehingga mereka mempersiapkan dengan baik kedatangannya.

Saya segera teringat dengan teman-teman yang pernah bersama i'tikaf beberapa tahun yang lalu. Ada Pak Dawam yang berasal dari BKN (Badan Kepegawaian Negara), ada Abdul Hakim yang berasal dari Hotel Hilton (waktu itu), ada Amri yang juragan siomay, dan lain-lain. Mereka sengaja mengambil libur/hak cutinya secara penuh bertepatan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, sehingga mereka bisa full time beri'tikaf di masjid. Arti i'tikaf bagi mereka itu tentulah sangat spesial sebagaimana kakek-nenek itu memberi makna pada Ramadhan.

***

Ramadhan adalah bulan untuk bermunajat, khususnya pada malam-malam terakhirnya, dimana Allah menjanjikan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Munajat adalah ekspresi cinta dari hamba kepada kepada sang khalik yang telah menganugerahi banyak cinta dan kasih sayangNya dalam kehidupan. Wajarlah jika mereka berusaha mengekspresikan kecintaan itu meski harus cuti pada sepuluh hari terakhir atau, bagi kakek-nenek pedagang nasi goreng itu, libur berdagang selama di bulan Ramadhan.

Saya mencoba bercermin. Jangankan meluangkan waktu khusus sebulan untuk bermunajat kepadaNya, meluangkan waktu khusus pada sepuluh malam terakhir secara full time di akhir bulan Ramadhan pun saya belum sepenuhnya mampu melakukannya. Beberapa tahun terakhir, saya berpindah-pindah kerja dari satu lokasi ke lokasi yang lain, sehingga saya belum pernah menikmati hak cuti secara penuh. Inilah resiko bagi karyawan kantoran seperti saya yang senantiasa berpindah-pindah. Atau inilah resikonya jika kita tidak memiliki sumber penghasilan secara mandiri yang tercipta dari sebuah bisnis yang sudah tersistemasi.

Sungguh, banyak pelajaran yang bisa saya petik dari mereka, khususnya kakek-nenek pedagang nasi goreng itu. Selain pelajaran untuk memuliakan Ramadhan sebagai bulan untuk bermunajat kepadaNya, khususnya 10 malam terakhir, mereka memberi pelajaran berharga tentang pentingnya sebuah kemandirian, khususnya kemandirian ekonomi. Kakek-nenek itu dengan tabungan yang berhasil ia sisihkan, ia berani menjalani Ramadhan tanpa aktivitas perniagaan apa pun selain perniagaan dengan Allah SWT.

Subhanallah. Semoga suatu saat kelak, saya bisa meneladaninya. Aamiin.

Wallaahu a'lam bishshawaab.(rizqon_ak)


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Categori
Recent Articles
Recent Comment
Archives

LINK
 

www.voa-islam.com

Copyright © 2020 Muhammad Rizqon · All Rights Reserved